ILMU KOMUNIKASI, KULIAH, Muda, SEMINAR DAN WORKSHOP, Uncategorized

Public Relations Ala Millenials

Sabtu (26/08/2017) Komunitas Rumah Millennials menyelenggarakan acara M –Talk atau Talkshow untuk mengupas kegiatan Humas di era millennial dengan tema “Memahami Kinerja Humas Masa Kini”. Acara ini bertempatan di Kolla Space Sabang Jl. Haji Agus Salim No. 32B, Kebon Sirih, Jakarta. Pembicara yang hadir dalam Talkshow ini adalah Public Relations dari berbagai bidang, yaitu Ananda Wondo (PR Cordinator Hotel Indonesia), Rahmat Fitra Wibowo (PR Net TV), Ridho Dwi Laksono ( Humas Kementrian Perhubungan), Tania Amalia (PR Director Leo Burnnet Indonesia), Andy M Salladin (PR Manager Lion Group),  Jessica Theresia (Senior PR Executive Zalora), dan Arninta Puspitasari (PR dan Event Manager Nutrifood).

rumah.millennials-1504141799046.jpg

Dalam acara talkshow ini para pembicara menekankan bahwa Public Relations masa kini harus mampu berperan aktif dalam kampanye di media sosial dan cepat tanggap akan opini publik yang bisa saja meruntuhkan citra institusi. Sebagai contoh Jessica Theresia (Senior PR Executive Zalora), ketika pelanggan membuat postingan yang berisikan ketidakpuasan terhadap pelayanan perusahaannya di Instastory Instagram, Jessica dengan cepat mengirimkan email permohonan maaf kepada pelanggan tersebut, dan akhirnya pelanggan itu membuat postingan kembali untuk mengonfirmasi bahwa Zalora sudah menanggapi keluhannya. Hal itu dilakukan untuk menjaga citra perusahaan, mengingat informasi di media sosial lebih cepat menyebar.

20170826_163832

Berbeda dengan dahulu, kini informasi tidak hanya dimuat pada media cetak saja, tetapi pada media daring yang diproduksi dengan cepat, hal ini menuntun kelincahan praktisi Public Relations dalam menanggapi isu maupun krisis institusinya. Seperti yang dituturkan oleh Andy M Salladin (PR Manager Lion Group) bahwa timnya melakukan simulasi insiden pesawat sampai cara menanggapi krisis yang terjadi agar pegawai siap jika situasi tersebut terjadi.  Public Relations tidak boleh lamban memberikan keterangan kepada media agar isu tidak berkembang dan informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan menyebar. Sama halnya dengan Ridho Dwi Laksono ( Public Relations Kementrian Perhubungan), Tim Public Relations Kementrian Perhubungan membuat group Whatsapp khusus untuk menghadapi situasi krisis, inisiatif ini bertujuan agar pihak yang terlibat dalam penanganan krisis dapat berkordinasi dengan baik dan dapat mengumpulkan data yang valid untuk menanggapi pertanyaan media.

Selain kesiapan menghadapi krisis, Public Relations era millennial juga harus mengerti perilaku komunikasi publiknya, media apa yang paling sering digunakan, dan konten seperti apa yang harus dibuat agar publik tertarik sehingga informasi dapat diterima dengan baik. Dari ketujuh pembicara di acara Talkshow ini, institusi tempat mereka bekerja melakukan pendekatan dengan masyarakat melalui media sosial seperti Instagram, Twitter, ataupun Facebook. Informasi yang disebarkan di media sosial lebih mudah menjadi viral dan membantu keberhasilan kampanye Public Relations yang sudah direncanakan oleh masing – masing institusi.

Komunitas yang dibentuk oleh institusi juga dapat membantu engagement masyarakat dengan institusi seperti yang dilakukan oleh Public Relations NET Media. Lewat komunitas ini NET Media bukan hanya sibuk membangun citra institusi tetapi juga mengedukasi publiknya.

Hampir sama dengan yang dilakukan NET Media, Public Relations Hotel Indonesia juga melakukan hubungan baik dengan publiknya lewat media sosial dan komunitas secara offline. Untuk mendapatkan kepercayaan publik mereka menggunakan tulisan influencer di media sosial dalam mereview produknya. Seperti yang dikatakan oleh Ananda Wondo, pihaknya kerap kali mengundang blogger untuk memotret dan mereview makanan yang dipromosikan di beberapa restoran milik Hotel Indonesia.

Tugas Public Relations bukan hanya membangun hubungan baik kepada pihak eksternal saja. Di lingkup Internal institusi, Public Relations mempunyai tugas dalam menginformasikan dan mensosialisasikan visi dan misi perusahaan. Seperti yang dilakukan oleh Arninta Puspitasari (PR dan Event Manager Nutrifood). Ia mengaku merubah culture  di PT Nutrifood dimana gaya hidup sehat diterapkan kepada seluruh karyawan sesuai dengan visi misi PT Nutrifood, dari mulai berolahraga sampai pola makan sehat di institusi.

Dari yang acara Talkshow ini bisa disimpulakan bahwa menjadi Public Relations di era millenial membutuhkan kemampuan diri untuk bergerak cepat dan beradaptasi dengan perkembangan zaman yang terus berubah. Public Relations  harus dituntut profesional , kreatif, namun tetap humanis dalam berkomunikasi dengan publik seperti yang dikatakan Tania Amalia (PR Director Leo Burnnet Indonesia).

Advertisements
Muda, Uncategorized

Selamat Datang Di Quarter Life Crisis

Kalau sekarang kamu berada diusia 20 tahunan . Saya ucapkan  “Selamat Datang di Quarter Life Crisis” . Kamu tau gak sih setiap orang pernah ngalamin dan stagnant di fase ini? Tanpa kamu sadari, mungkin kamu sedang menyelami masa ini, dan tanpa kamu tahu juga ini disebut dengan Quarter Life Crisis. Wait !Wait! Mari kita pahami apa sih Quarter Life Crisis itu?

Dari yang pernah saya baca di portal majalah online http://www.cosmopolitan.com. Fase hidup ini disebut juga dengan krisis seperempat baya. Pada tahun 1997, Abby Wilner mencetuskan istilah ini ketika dia tidak tahu akan melakukan apa dihidupnya. Seseorang akan mengalami periode dimana dirinya mengalami rasa kekhawatiran, ketidakpastian dalam hidup dan kekacauan dalam batin.

Kamu juga pernah merasakannya kan ? Atau sedang merasakannya? Tenang – tenang ! saya pun mulai merasakan itu semua ketika usia saya 20 tahun. Dari hasil pengamatan dan dari diri saya sendiri , inilah yang dirasakan serta dialami oleh seseorang di Quarter Life Crisis nya

Quarter-Live-Crisis

Melihat Rumput Tetangga Menjadi Lebih Hijau

Benar atau benar nih teman – teman? Kamu pernah menilai orang lain yang sebaya dengan kamu, sudah terlihat lebih maju dibanding kamu kan? Apalagi dengan banyaknya media sosial yang menjamur , kamu  bisa dengan lebih mudah melihat orang lain menunjukkan progress dirinya. Teman – teman yang dulu suka main gundu bareng, bikin PR bareng di kelas, Main Barbie bareng , eh sekarang udah main saham aja dan udah jadi eksmud gitu. Sedangkan kamu merasa bukan apa – apa , karena masih jadi mahasiswa tingkat akhir yang  cuma sibuk ngurusin Skripsi dan IPK tanpa penghasilan. Pada suatu waktu ketika kamu sedang merasa inferior , pasti kamu bilang “enak banget jadi dia, udah berhasil aja. Aku mah apa atuh”.

Mulai Ragu Dengan Apa Yang Sedang Dijalani

Kamu pernah merasa flat  banget gak sih sama apa yang sedang kamu jalani sekarang? Rasa bosan sama pekerjaan atau kuliah, jenuh sama rutinitas, macet Jakarta, atau hal lainnya yang gitu – gitu aja? Kamu bahkan mulai ragu apa benar bidang yang sedang kamu jalani bisa buat kamu bahagia dan apa benar itu passion kamu? Biasanya dialami nih sama mahasiswa – mahasiswa yang ngerasa salah jurusan, alhasil mereka sering bolos kuliah dan males ngerjain tugas . Kemudian, ada semacam kekhawatiran dan ketakutan akan masa depan. “Bisa gak ya gue lulus tepat waktu? Ada gak  ya yang mau terima gue sebagai pegawai pas gue lulus nanti? Nanti lulus S2 atau menikah ya? Bekerja atau jadi ibu rumah tangga aja ya?  “.

Merasa Malu Saat Hari Lebaran

Whatss? Tahu gak kenapa? Pasti tahu dong. Yap. Salah satu hikmah dari hari lebaran adalah bertemu dengan banyak orang , dan  banyak sanak saudara. Tapi kamu kadang merasa malu karena mereka sering bertanya. “Kamu kapan lulus? Kamu kapan nikah, Mana calonnya kok gak di ajak?”. Kamu Cuma bisa tepuk jidat kan kalo gitu?. Dan satu lagi, yang bikin kamu mungkin malu dan minder, kamu belum bisa ngasih angpao lebaran padahal sepupu yang sebaya udah bisa ngasih. Kalau kali ini mungkin kamu ga tepuk jidat lagi, tapi tutup muka sambil melangkah ke belakang lalu kabur.

Merasa Jadi Beban Orang Tua

Di usia kamu yang sudah 20 tahun lewat dikit ini, kamu akan bertanya pada dirimu sendiri sampai kapan membebani orang tua secara financial. Kuliah masih dibiayain , baju masih dibeliin, mau beli pensil alis masih minta uang ke orangtua, mau jalan – jalan masih di donaturin. Menurut saya pribadi, ini hal yang paling berat buat fase Quarter Life Crisis nya saya, karena saya kuliah regular dan tidak boleh menyambi kerja, jadi belum punya penghasilan apa – apa. Saya suka merasa bersalah aja , kok saya bisa enak – enak nya gak mikirin gimana harus bayar kuliah, gimana harus mikirin biaya hidup untuk diri saya sendiri. Dan saya juga merasa sedih belum bisa ngasih apa – apa ke orang tua yang sudah berjuang untuk hidup saya dari kecil. Huhuhu. Kalau yang ini kamu merasakan juga kan?

Itu tuh yang dirasain sama kita yang hampir dewasa. Hehe

Tapi point penting yang harus kita ambil dari fase ini adalah, Kita gak bisa sama seperti orang lain dan sukses pada waktu yang sama seperti mereka. Tiap orang mempunyai waktunya sendiri – sendiri. Dan apa yang kita lihat di diri orang lain belum tentu sempurna seperti apa yang kita pikirkan. Tiap kepala punya beban yang berbeda, tiap jiwa mempunyai kebahagiaan yang berbeda pula.

Selagi kita masih ada , selagi itu pula kita punya kesempatan yang sama. Bukankah Roma tidak dibangun dalam semalam? Butuh perjuangan ekstra dan doa yang dirapal dengan khusuk serta keyakinan bahwa JanjiNya selalu benar, untuk mencapai itu semua.

Apapun fase yang kita lalui dalam hidup akan terasa bahagia kalau bersyukur. Bahagia berlebihan , bahagianya akan diambil. Bersyukur berlebihan , Bahagianya akan di tambah. Memang, kekhawatiran, keresahan, rasa malu, minder adalah manusiawi. Tapi dengan benteng keimanan dan percaya bahwa hidup bukan cuma tentang keduniawian saja, pasti kita lega menerima apapun yang diberikanNya.

Lakukan yang terbaik apa yang bisa kita lakukan pada hari ini. Kesusahan hanya sementara. Berlelahlah dalam berjuang. Agar merasa nikmat ketika hasilnya datang J

FICTION, ILMU KOMUNIKASI, KULIAH, Review, Uncategorized

Review Novel Feminisme: Perempuan Di Titik Nol

aceh

Novel Perempuan Di Titik Nol adalah novel karya Nawal El Saadawi yang pertama kali dipublikasikan di negara – negara Arab pada tahun 1975. Dan untuk pertama kali di Indonesia Novel ini dicetak oleh Yayasan Obor Indonesia yang tentunya sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Amir Sutarga.

Novel yang ditulis oleh Nawal El Sadawi ini merupakan kisah nyata dari seorang perempuan bernama Firdaus dari sel penjaranya di Penjara Qanatir, Mesir, tempat dia menunggu pelaksanaan hukuman mati. Sebelum kematiannya Firdaus menceritakan banyak pengalaman hidupnya kepada Nawal yang ketika itu menjadi psikiater dan sedang meneliti kasus neurosis di penjara tersebut.

Novel Perempuan Di Titik Nol  merupakan buku yang pedas juga tajam. Mengapa? Karena di dalam novel ini terdapat kritik – kritik terhadap situasi yang ada. Sastra Arab ini menggambarkan dan mencermikan realitas yang ada di dalam kehidupan yang sebenarnya. Dalam masyarakat tradisional, wanita berada pada kedudukan yang lebih rendah dibanding laki  – laki. Namun, semakin berkembangnya zaman, wanita mulai menuntut haknya dan menyetarakan dirinya sama seperti laki – laki.

Dalam novel ini Firdaus yang digambarkan sebagai seorang perempuan yang mempunyai masa remaja kelam dan sering menerima pelecehan dari laki – laki, tidak serta merta menyerah begitu saja. Ia tetap belajar, bersekolah, mencari pekerjaan untuk menjadi sesosok wanita yang mandiri dan agar dihormati. Walau pada akhirnya ia harus menjadi WTS, namun ia tetap membenci laki – laki.

Diketahui, budaya Arab dikenal sebagai masyarakat yang kedudukan perempuannya dianggap terbelakang. Nawal El Saadawi ingin menunjukkan perjuangan perempuan di negeri – negeri Arab untuk merebut kedudukan serta hak – hak yang sama.

Dari pengalaman Firdaus yang pahit, Firdaus tumbuh menjadi perempuan yang mempunyai jiwa Feminis Radikal. Ia membenci laki – laki. Dapat dilihat dari petikan novel berikut:

“Seorang pelacur yang sukses lebih baik dari seorang suci yang tersesat. Semua perempuan adalah korban penipuan. Lelaki memaksakan penipuan pada perempuan, dan kemudian menghukum karena telah tertipu, menindas mereka ke tingkat terbawah, dan menghukum mereka karena telah jatuh begitu rendah, mengikat mereka dalam perkawinan, dan menghukum mereka dengan kerja kasar sepanjang umur mereka, atau menghantam mereka dengan penghinaan, atau dengan pukulan”.

Gambaran buruk tentang laki – laki dan perkawinan ini wujud dari motivasi Nawal  ingin menyampaikan bahwa seringkali kekuasaan laki – laki menjadikan wanita hanya sebagai objek pemuas nafsu saja, kaum wanita sudah terlalu lama menjadi kelas kedua yang sering dijadikan korban penindasan oleh kaum laki – laki. Selain itu penulis juga menyatakan bahwa perkawinan hanya menjadi sebuah hal yang merugikan wanita. Seperti pada petikan di bawah ini:

Saya tahu bahwa profesiku ini telah diciptakan oleh lelaki, dan bahwa lelaki menguasai dua dunia kita, yang dibumi ini, dan yang di alam baka. Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka dengan harga tertentu, dan bahwa tubuh yang pailng murah dibayar adalah tubuh sang isteri, semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas daripada isteri yang diperbudak.“

Nawal menuliskan hal tersebut untuk menyuarakan jeritan dan penderitaan perempuan di negeri – negeri Arab.  Lewat Tokoh Firdaus, Nawal mengungkapkan bahwa perempuan di negeri – negeri Arab saat itu tidak mempunyai otoritas untuk memilih sesuatu. Firdaus mau tak mau dinikahkan oleh duda tua yang tidak ia sukai. Dalam pernikahan itu, Ia tidak bahagia sama sekali, ia hanya dijadikan pelayan sang suami dan kerap kali menerima kekerasaan fisik. Namun, hal itu dianggap wajar oleh masyarakat disana. Seperti pada petikan novel dibawah ini,

“Pada suatu peristiwa dia memukul seluruh badan saya dengan sepatunya. Muka dan badan saya menjadi bengkak dan memar. Lalu saya tinggalkan rumah dan pergi ke rumah Paman. Tetapi Paman mengatakan kepada saya bahwa semua suami memukul isterinya, dan isterinya  menambahkan bahwa Paman adalah seorang syeikh yang terhormat, terpelajar dalam hal ajaran agama, dan dia, karena itu, tak mungkin memiliki kebiasaan memukul isterinya. Dia menjawab bahwa justru laki – laki yang memahami agama itulah yang suka memukul isterinya. Aturan agama mengijinkan untuk melakukan hukuman itu. Seorang isteri yang bijak tidak layak mengeluh tentang suaminya. Kewajibannya ialah kepatuhan yang sempurna” .

Pada petikan novel di atas, Nawal ingin menyatakan bahwa kekerasan pada perempuan di dalam pernikahan dianggap wajar oleh masyarakat Arab. Namun Firdaus, yang memiliki keinginan untuk hidup bebas berhasil pergi dari suaminya dan hidup menjadi perempuan yang merdeka.

Firdaus berjuang untuk lepas dari dominasi kaum laki – laki dan mencari pekerjaan yang membuat dirinya merasa terhormat. Itu merupakan usahanya untuk menjadi manusia yang utuh. Ia mampu mencapai kesejahteraan hidupnya.

“Selama tiga tahun bekerja pada perusahaan itu, saya menyadari, bahwa sebagai pelacur saya telah dipandang dengan lebih hormat, dan dihargai lebih tinggi daripada semua karyawan perempuan. Pada masa itu saya tinggal di sebuah rumah dengan kamar mandi pribadi. Saya dapat masuk ke situ setiap saat, dan mengunci diri tanpa orang yang menyuruh buru – buru. Tubuh saya tidak pernah terjepit di antara tubuh – tubuh orang lain di dalam bis, juga tak pernah ditekan oleh tubuh orang lelaki baik dari depan maupun belakang. Harganya tidak murah, dan tidak bisa dibayar hanya dengan kenaikan gaji, oleh undangan untuk makan malam, oleh pelesiran sepanjang Sungai Nil dengan kendaraan seseorang. Juga tidak pernah dianggap sebagai harga yang seharusnya saya bayar untuk memperoleh jasa baik direktur saya, atau untuk menghindari amarah sang presiden direktur.

Di akhir kisah, Firdaus terpaksa berkencan dengan seorang pangeran dari negaranya. Ia begitu membenci penguasa itu. Firdaus meremas uang kertas yang diberikan oleh pangeran sebagai wujud kekesalan, bahkan ia mencoba melakukan pembunuhan kepada pangeran itu. Firdaus merasa bahwa penguasa dengan mudahnya menghabiskan uang untuk diberikan keepada WTS dan mebiarkan rakyatnya mati kelaparan.

Kebencian Firdaus kepada laki – laki dan penguasa semakin menjadi – jadi. Ketika di penjara ia sering meludahi foto – foto penguasa walaupun ia tak mengenalnya sama sekali. Novel ini benar – benar mengkrtitik apa yang terjadi pada masyarakat yang cenderung patriaki. Novel ini ingin menginformasikan bahwa begitu kejamnya dunia yang didominasi oleh laki  – laki di negeri Arab. Firdaus menjadi tokoh feminis radikal yang mempunyai perjuangan untuk membebaskan diri sendiri dari dominasi laki – laki.

 

ILMU KOMUNIKASI, KULIAH, Psikologi Komunikasi

Looking Glass Self : Terbentuk Karena Bercermin

Seperti cermin, memantulkan apa yang ada di depannya. Disitulah kita lihat diri kita sendiri. Sebuah Imajinasi yang merubah pandangan hidup kita melalui gambaran diri dimata sosial. (Cooley)

DSCN5080Ini tentang konsep diri. Apa sih konsep diri itu?

Menurut Willirn D. Brooks, Konsep diri sebagai “those physical, social, and psychological perceptions of ourself that we have derived from experiences and our interactions with other”. Jadi, konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita sendiri. Persepsi tentang diri ini boleh bersifat psikologi, sosial, dan fisik.  (Rakhmat, 2011; 99)

Mungkin masing – masing dari kita pernah bertanya tentang jati diri sendiri ketika masa peralihan dari anak – anak ke masa remaja, atau ketika kita berproses menjadi lebih dewasa. Pernah kan muncul pertanyaan seperti ini dari diri kita sendiri?

“ Bagaimana sih  watak saya?”

“ Bagaimana orang lain memandang diri saya?”

Dan lain sebagainya.

Konsep diri tidak begitu saja terbentuk pada diri seseorang. Tanpa sadar seseorang dibentuk oleh orang tua  sejak masih kecil bahkan sejak masih bayi. Selain orang tua, orang terdekat dengan diri kita pun bisa ikut berperan dalam pembentukan konsep diri.

Seorang anak yang diapresiasi dan didukung oleh orang terdekatnya dengan kalimat sanjungan, seperti “Kamu pintar nak, ayo belajar lebih giat lagi agar mendapatkan nilai yang lebih baik”, “Kamu rajin sekali”, “Soleh sekali anak ayah”, “Sopan sekali anak ibu”.  akan membuat seorang anak melihat dirinya sebagai seorang yang pintar, rajin, soleh, dan sopan. Semua itu akan mempengaruhi kepercayaan diri seorang anak . Ini disebut sebagai konsep diri positif. Memang benar, orang tua dan orang lain yang mempunyai ikatan emosional yang tinggi akan mempengaruhi terbentuknya pribadi kita.

Lain halnya…

Ketika seorang dibesarkan dengan kemarahan, celaan, kekerasan. Dengan kalimat – kalimat negatif seperti “ Kamu bodoh sekali”, “Kamu malas!”, “Kamu ga bakal bisa”, “Kamu anak yang nakal”. Akan mengakibatkan kepercayaan diri seorang anak akan menurun, dan ia akan melihat dirinya sebagai orang yang bodoh, malas, nakal dan merasa tidak bisa apa- apa.

Ternyata benar!

Semua itu bukan hanya teori. Saya punya teman sekelas yang merasa dirinya tidak bisa apa – apa ,bahkan ia merasa dirinya bodoh, kamu tau kenapa? Karna lingkungan menilai ia seperti itu. Tidak ada apresiasi atau dukungan kepadanya. Selama ini lingkungan menilai ia sebagai seorang yang selengean,pemalas, dan berbagai hal negatif telah mempengaruhi konsep dirinya. Bahkan kadang ia merasa putus asa “Ah kan, kayanya gue ga bisa apa – apa” . tuturnya.

Disebuah kesempatan ia bilang pada saya. “Kayanya gue ga bisa gini terus deh, ayo kan kita belajar bareng setiap hari apa gitu”. Spontan saya senang sekali. Akhirnya ia berusaha untuk merubah imagenya. Dan ternyata benar! Tidak ada orang bodoh. Teman saya tidak seperti apa yang lingkungan nilai. Ketika berdiskusi , ide yang ia kemukakan out of the box tuh, nalarnya juga jalan. Dan pada suatu hari ia mengemukakan sebuah ide kepada salah seorang  temannya, namun temannya itu tidak mengapresiasi sedikitpun ide teman saya. Lalu, beberapa hari kemudian teman saya kembali merasa bahwa dirinya tidak bisa apa – apa. Sayang sekali, usaha untuk merubah image hanya sampai disitu saja karena sebuah penilaian yang mendestruct kepercayaan diri teman saya.

Ini yang kadang salah dari kita, kita sering lupa mengapresiasi seseorang. Dan tanpa disadari kita juga sering memanggil seseorang dengan julukan negatif. “Si Bawel”, “Si Pemarah”, Si Usil”, “Si Gendut”, “Si Hitam”, “Si Pendek”, “Si Malas” atau lainnya. Padahal, semua akan berakibat pada kepercayaan diri seseorang dan aspek psikologisnya.

Saya juga sering menyayangkan, jika ada seorang guru yang memarahi siswa ketika siswanya tidak mumpuni disebuah mata pelajaran, lalu melabeli siswa tersebut sebagai anak yang terbelakang dikelasnya. Tentu saja kepercayaan diri siswa akan menurun dan ia akan menganggap dirinya bodoh. Atau sama halnya dengan orang tua yang memarahi anaknya ketika hasil ujian jelek. Padahal setiap anak punya bakat yang berbeda, dan orang tua harus tetap mengapresiasi serta mendukung anaknya untuk berproses sesuai bakatnya.

Semoga kita, yang belum menikah atau calon orangtua yang akan mempunyai anak. Tidak lupa menyiapkan ilmu untuk menjadi orang tua bijak yang mengerti dan paham tentang ini, karena dengan memahami sedikit ilmu tentang psikologi maka kita akan membantu membentuk kepribadian mereka dikemudian hari.

FICTION

Merakit Perahu Bersama

Putar Videonya disini, dengarkan musiknya 🙂

Hay. Sore kala aku mengetik entry ini , dirumahku sedang hujan lebat. Suaranya syahdu dan hawanya sejuk. Sambil aku berdoa, semoga kau slalu bersabar seperti purnama yang menanti waktu untuk mengunjungi bumi dipertengahan bulan nanti. Atau seperti matahari yang tenggelam beberapa belas jam dalam sehari, namun ketika waktunya untuk terbit lagi ia selalu siap hadir dengan berani. Semoga rapalan doa itu terkabul. Karna katanya, saat hujan adalah waktu mustajab untuk berdoa kan? 🙂 Semoga pula kau sedang melengkungkan senyum termanismu, melihat ayah , ibu , dan saudara – saudaramu menanti adzan magrib dengan candaan renyah. Entah dimanapun kamu berada, siapa namamu, bagaimana wajahmu ku harap kau menyayangi mereka semua. Dan semoga suatu saat nanti aku berada ditengah – tengah kalian dan menjadi salah satu orang yang kau sayangi.

Oh ya, aku yakin kau akan sepakat denganku. kalau hidup selalu memberikan kita banyak kejutan. Kejutan yang terkadang buat kita kaget, gembira, sedih , bahkan nelangsa. Tapi itulah pelajaran untuk menjadikan kita dewasa. aku yakin juga kau akan sepakat kalau semua porsi waktu di dalam hidup kita sudah tertulis di skenario yang begitu indah. Tinggal kita melakukan hal terbaik untuk hari ini. Masalah nanti berserah diri saja.

DSCN4638.JPG

Sesuatu akan diberikan kepada kita jika kita siap bukan?  Ya, aku percaya itu. waktu akan mempertemukan kita dikala aku dan kamu sudah siap. Tidak usah terburu – buru, kamu usahakan apa yang ingin kamu bawa saja, dan aku mempersiapkan apa yang akan aku persembahkan untukmu. Aku tidak menuntut kau membawa pesiar buatku. Bahkan aku ingin kita merakit perahu bersama. Kamu boleh membawa beberapa bilah kayu panjang, dan aku mambawa beberapa bilah kayu lagi untuk melengkapinya, atau mungkin aku bawa palu serta paku untuk menjadikan perahu kita kokoh nantinya. Percayalah, kamu tidak sedang mempersiapkan itu sendirian, aku disini juga sedang memikirkan rancangan perahu masa depan kita. lalu merakit hingga kita bisa berlayar bersama dan menggantikan perahu menjadi pesiar yang besar, hasil jerih payah kita berdua.

Kamu boleh membayangkan itu semua. Tapi untuk sekarang, aku hanya meminta kamu bahagia dengan kehidupanmu hari ini. Membebaskan dirimu menjadi apa  yang kamu mau, tetapi tetap dalam koridor yang baik yah. Jangan terburu – buru akan hal ini. Nikmati saja penantian dan kesendirianmu sekarang. Karna aku ingin dengar semua cerita tentang masa mudamu yang menakjubkan. Aku ingin dengar itu ketika aku bertemu kamu dan bersiap merakit serta berlayar bersama dengan kesederhanaanmu 🙂

 

 

ILMU KOMUNIKASI, KULIAH, Uncategorized

Kuliah Komunikasi Di Kampus Hijau

58envCRZ
Logo FISIP UHAMKA . sumber: http://www.uhamka.ac.id 

Sudah hampir tiga tahun saya kuliah jurusan komunikasi di kampus hijau. Kampus hijau yang saya maksud yaitu Universitas Muhammadiyah Prof. Dr Hamka Jakarta atau yang lebih dikenal dengan sebutan UHAMKA. Mengapa hijau? Karena hijau adalah salah satu warna yang menggambarkan identitas kami. UHAMKA sudah berdiri cukup lama sejak tahun 1957, dan kampus ini adalah perguruan tinggi swasta milik organisasi Muhammadiyah. Dan Alhamdulillah, sekarang akredetasi Universitas kami sudah A. Di UHAMKA sendiri terdapat sembilan fakultas yang tersebar di beberapa tempat. Salah satu fakultas tersebut adalah FISIP dan prodi komunikasi tempat saya belajar ada di fakultas ini. FISIP terdapat di Kampus A UHAMKA Limau Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Cukup strategis karna dekat dengan terminal Blok M dan Stasiun Kebayoran Lama, jadi kalau kamu ingin kesini patokannya adalah tempat tersebut. Tidak susah mencari letak kampus kami bukan?

Prodi Ilmu Komunikasi di UHAMKA sudah mendapatkan akredetasi A. Kata orang, walau kampus swasta tetapi sudah dapat akredetasi A, maka bisa dikatakan setara dengan perguruan tinggi negeri. Hal itulah yang menjadi alasan dari banyak mahasiswa yang mengambil prodi komunikasi di UHAMKA.

uhamka.ac.id
Ilmu Komunikasi UHAMKA Akredetasinya A loh 🙂

Prodi ini terbagi lagi menjadi empat peminatan, yaitu Public Relations, Mass Communications , Broadcasting , Advertising untuk kelas reguler. Peminatan tersebut kami pilih ketika kami naik ketingkat II atau saat kami semester III, namun dengan syarat harus lulus mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi disemester I dan Teori Komunikasi disemester II. Tidak berat kan syaratnya? Oh ya. Bagaimana kalau kita membahas satu per satu peminatan tersebut.

Yang pertama, Peminatan Public Relations (PR) atau Hubungan Masyarakat. PR di dalam perusahan/organisasi bertugas untuk membangun dan mempertahankan hubungan baik dengan publik internal misalnya karyawan, CEO, dan lain sebagainya, begitu pula dengan publik eksternal misalnya pelanggan, media massa, pemerintah, investor. Tentunya semua itu dilakukan dengan cara yang strategic. Dan di bangku kuliahlah kami mempersiapkan itu semua dan belajar tentang PR Planing, CSR, Protocoler and Public Speaking, PR Audit, Loby and Negotiation , PR Writing, PR Online, PR Ethics and Law, Crisis Management, ect . prospek kerjanya,jadi PR di perusahaan profit dan nonprofit, selain itu bisa kerja di bagian Marketing Communications suatu perusahaan, dan bisa juga kok jadi peneliti.

Yang Kedua, Peminatan Mass Communications atau Komunikasi Massa. Biasanya yang ingin jadi Jurnalis atau Wartawan masuk ke peminatan ini. Udah tahu dong? Apa tugas Wartawan. Yap benar! Mencari dan menulis berita. Saya dapat cerita dari senior yang sudah lulus dan sekarang jadi wartawan di salah satu media besar di Indonesia, katanya jadi Wartawan itu penuh tantangan tapi mengasyikan. Mengapa? Karena kita bisa bertemu orang – orang penting setiap hari, pergi ke banyak tempat yang jauh dengan gratis, menyaksikan peristiwa – peristiwa menarik yang biasanya hanya bisa kita liat dari pesawat televisi. Di peminatan ini kami belajar tentang Fotografi, Menulis Feature, Perenacanaan Media, Manajemen Media Massa, Hukum dan Etika Media Massa, Liputan Seni, Cyber Journalism, dan masih banyak lagi. Prospek kerjanya jadi wartawan di berbagai media massa.

Yang Ketiga .Peminatan Broadcasting atau Penyiaran. Broadcaster biasanya kerja di stasiun televisi dan radio untuk memproduksi program, namun bisa juga bekerja di production house dan terlibat dalam pembuatan film layar lebar. Di peminatan ini kami belajar tentang Produksi televisi, Produksi RTF, Produksi Berita, Editing Audio Visual, dan masih banyak lagi.

NZrGN0H8_400x400
sumber: http://www.uhamka.ac.id

Yang Keempat. Peminatan Advertising atau Periklanan. Menurut Cutlip,Center, dan Broom  Ahli periklanan mengontrol isi, penempatan, dan timing  dengan membayar media untuk mendapatkan waktu dan ruang penempatan iklannya. Selama berkuliah di peminatan ini kita kami mempelajari Perencanaan Kreatif Periklanan, Perencanaan Media iklan, Brand Communications, Manajemen Periklanan, Advertising Visual, Digital Advertising, Copy Writing, dan masih banyak lagi. Prosepek kerjanya di agensi periklanan , media, bahkan bisa bikin agensi periklanan dan mandiri berwirausaha dibidang ini.

Kalau saya sediri, memilih peminatan Public Relations  karena menarik buat saya berbicara di depan banyak orang, membuat strategi PR, dan melakukan loby & negotiation. Dan yang tak kalah menarik perhatian saya adalah ilmu tentang Integrated Marketing Communications yang mungkin bisa menunjang saya ketika saya berwirausaha nanti.

Salain mata kuliah yang sudah disebutkan tadi, ada juga mata kuliah umum tentang komunikasi yang wajib diambil oleh kami, seperti Metode Penelitian Komunikasi, Komunikasi Antarpribadi, Komunikasi Antarbudaya, Psikologi Komunikasi, Komunikasi Politik, Komunikasi Internasional, Komunikasi Sosial, Komunikasi Organisasi, Statistik Sosial, dan lainnya. Dan ketika lulus dari Komunikasi UHAMKA ini kami mendapat gelar Sarjana Sosial karena prodi ini berada di naungan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik.

1465373391-e379ca158185332bb6b0f055d88f2bce
Talkshow Yang Diadakan Prodi Komunikasi UHAMKA Bekerjasama dengan SINDO

Untuk kamu yang baru saja lulus SMA dan bingung harus kuliah jurusan apa dan dimana, mungkin kamu bisa main ke kampus kami dulu. Rata – rata anak komunikasi itu seru dan sangat bersahabat , kamu ga akan ngerasa kesepian karna mereka rame dan banyak omongannya, gaul , dan bertalenta diberbagai macam bidang. Kamu bisa belajar sama mahasiswa yang jago fotografi, bikin film, atau nge MC. Pokoknya masih banyak hal lain yang seru kalau kamu kuliah komunikasi. Ayo tunggu apa lagi , putuskan pilihanmu untuk bergabung bersama kami. Ayo kuliah komunikasi di kampus hijau ini.

KULIAH

Omelan Dosenmu: Besi Panas Pada Hari Ini. Mutiara Kokoh Pada Esok Hari

Image From: Akadusyifa.com

Untuk yang sedang dan akan menghadapi semester akhir di bangku kuliah,  yang sedang sibuk mencari judul penelitian namun ketika sudah punya judul lalu ditolak, atau judul sudah diacc tapi referensi susah didapat. Ada juga yang sudah dapat referensi tetapi proposal penelitian dicoret – coret dosen pembimbing, dikritik abis – abisan,  diREVISI diREVISI dan terus diREVISI. Saat sudah direvisi, diomelin karena tidak sesuai dengan saran dosen. Sampai lelah, sampai sebal, sampai tidak tahu harus apalagi, sampai bertanya – tanya kapan saya akan maju ketahap selanjutnya? Kapan saya lulusya? Ya memang lelah menunggu dosen pembimbing mempunyai waktu luang. Ya memang tidak mudah mempersiapkan mental untuk bertemu dosen pembimbing terlebih jika tidak paham dengan penelitian sendiri. Mungkin akan kena omel dan merasa diri begitu sangat bodoh. Lalu sebagian dari kita akan sakit hati, motivasi menurun, dan ujung – ujungnya malas untuk meneruskan.

edunews.id
Image From: Edunews.id

Tapi sebentar dulu! Mari kita berfikiri positif. Mengapa harus ada penolakan judul? Mengapa harus ada kritik – kritik pedas? Mengapa dosen kita harus menyelipkan omelan diprosesi itu? Coba kita pikirkan, bagaimana kredebilitas diri kita sendiri ketika lulus sebagai sarjana namun penelitian akhir/skripsi kita tidak valid, konsep ngaco, metodologi salah, ejaan tidak sempurna? Padahal kita mendambakan menjadi diri yang ahli ketika kita lulus nanti. Bagaimana dengan perusahaan yang akan kita lamar jika tahu skripsi kita saja tidak benar? Bagaimana mereka mempercayai kita untuk menangani masalah – masalah perusahaan yang lebih complicated? Jawablah dengan akal sehat kita. Tentu kalian akan sepakat. Semua omelan dosen kita hari ini sebenarnya adalah penyelamat untuk kita pada hari berikutnya. Dosen kita secara tidak langsung menjadikan kita sosok yang gigih untuk mencapai tujuan sekaligus membenarkan ilmu kita. Saya yakin dibalik banyak kritik dan omelan tidak ada rasa untuk menjatuhkan, bahkan banyak terselip harapan yang sebenarnya bisa memacu semangat kita. Karna kebahagiaan seorang guru adalah ketika anak didiknya sukses bukan?

Teman – temanku. Langkah kita tidak sepanjang adik – adik tingkat kita yang masih ditahun pertama, yang masih punya banyak kesempatan untuk meraih prestasi ketika dalam status mahasiswa. Sedangkan kita, sebentar lagi  akan menemukan garis finish, kalau kita belum punya prestasi gemilang dimasa – masa kuliah kita ini. Semoga penelitian akhir/skripsi kita dapat berguna dan menunjang karir kita dimasa depan. Jangan pernah merasa bodoh, karena tidak ada yang bodoh yang ada hanya orang yang tidak mau. Ya !tidak mau menyelesaikan. Kita sudah terlanjur memulai, ayo segera kita selesaikan ini semua dengan baik, tapi dengan catatan jangan pernah sekali – kali membenci dosen – dosen kita walau kritikan pedas kadang menampar. Anggap saja itu besi panas pada hari ini yang sedang menempa kita menjadi sesosok pribadi yang kokoh seperti mutiara pada  esok hari.