ILMU KOMUNIKASI, KULIAH, Psikologi Komunikasi

Looking Glass Self : Terbentuk Karena Bercermin

Seperti cermin, memantulkan apa yang ada di depannya. Disitulah kita lihat diri kita sendiri. Sebuah Imajinasi yang merubah pandangan hidup kita melalui gambaran diri dimata sosial. (Cooley)

DSCN5080Ini tentang konsep diri. Apa sih konsep diri itu?

Menurut Willirn D. Brooks, Konsep diri sebagai “those physical, social, and psychological perceptions of ourself that we have derived from experiences and our interactions with other”. Jadi, konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita sendiri. Persepsi tentang diri ini boleh bersifat psikologi, sosial, dan fisik.  (Rakhmat, 2011; 99)

Mungkin masing – masing dari kita pernah bertanya tentang jati diri sendiri ketika masa peralihan dari anak – anak ke masa remaja, atau ketika kita berproses menjadi lebih dewasa. Pernah kan muncul pertanyaan seperti ini dari diri kita sendiri?

“ Bagaimana sih  watak saya?”

“ Bagaimana orang lain memandang diri saya?”

Dan lain sebagainya.

Konsep diri tidak begitu saja terbentuk pada diri seseorang. Tanpa sadar seseorang dibentuk oleh orang tua  sejak masih kecil bahkan sejak masih bayi. Selain orang tua, orang terdekat dengan diri kita pun bisa ikut berperan dalam pembentukan konsep diri.

Seorang anak yang diapresiasi dan didukung oleh orang terdekatnya dengan kalimat sanjungan, seperti “Kamu pintar nak, ayo belajar lebih giat lagi agar mendapatkan nilai yang lebih baik”, “Kamu rajin sekali”, “Soleh sekali anak ayah”, “Sopan sekali anak ibu”.  akan membuat seorang anak melihat dirinya sebagai seorang yang pintar, rajin, soleh, dan sopan. Semua itu akan mempengaruhi kepercayaan diri seorang anak . Ini disebut sebagai konsep diri positif. Memang benar, orang tua dan orang lain yang mempunyai ikatan emosional yang tinggi akan mempengaruhi terbentuknya pribadi kita.

Lain halnya…

Ketika seorang dibesarkan dengan kemarahan, celaan, kekerasan. Dengan kalimat – kalimat negatif seperti “ Kamu bodoh sekali”, “Kamu malas!”, “Kamu ga bakal bisa”, “Kamu anak yang nakal”. Akan mengakibatkan kepercayaan diri seorang anak akan menurun, dan ia akan melihat dirinya sebagai orang yang bodoh, malas, nakal dan merasa tidak bisa apa- apa.

Ternyata benar!

Semua itu bukan hanya teori. Saya punya teman sekelas yang merasa dirinya tidak bisa apa – apa ,bahkan ia merasa dirinya bodoh, kamu tau kenapa? Karna lingkungan menilai ia seperti itu. Tidak ada apresiasi atau dukungan kepadanya. Selama ini lingkungan menilai ia sebagai seorang yang selengean,pemalas, dan berbagai hal negatif telah mempengaruhi konsep dirinya. Bahkan kadang ia merasa putus asa “Ah kan, kayanya gue ga bisa apa – apa” . tuturnya.

Disebuah kesempatan ia bilang pada saya. “Kayanya gue ga bisa gini terus deh, ayo kan kita belajar bareng setiap hari apa gitu”. Spontan saya senang sekali. Akhirnya ia berusaha untuk merubah imagenya. Dan ternyata benar! Tidak ada orang bodoh. Teman saya tidak seperti apa yang lingkungan nilai. Ketika berdiskusi , ide yang ia kemukakan out of the box tuh, nalarnya juga jalan. Dan pada suatu hari ia mengemukakan sebuah ide kepada salah seorang  temannya, namun temannya itu tidak mengapresiasi sedikitpun ide teman saya. Lalu, beberapa hari kemudian teman saya kembali merasa bahwa dirinya tidak bisa apa – apa. Sayang sekali, usaha untuk merubah image hanya sampai disitu saja karena sebuah penilaian yang mendestruct kepercayaan diri teman saya.

Ini yang kadang salah dari kita, kita sering lupa mengapresiasi seseorang. Dan tanpa disadari kita juga sering memanggil seseorang dengan julukan negatif. “Si Bawel”, “Si Pemarah”, Si Usil”, “Si Gendut”, “Si Hitam”, “Si Pendek”, “Si Malas” atau lainnya. Padahal, semua akan berakibat pada kepercayaan diri seseorang dan aspek psikologisnya.

Saya juga sering menyayangkan, jika ada seorang guru yang memarahi siswa ketika siswanya tidak mumpuni disebuah mata pelajaran, lalu melabeli siswa tersebut sebagai anak yang terbelakang dikelasnya. Tentu saja kepercayaan diri siswa akan menurun dan ia akan menganggap dirinya bodoh. Atau sama halnya dengan orang tua yang memarahi anaknya ketika hasil ujian jelek. Padahal setiap anak punya bakat yang berbeda, dan orang tua harus tetap mengapresiasi serta mendukung anaknya untuk berproses sesuai bakatnya.

Semoga kita, yang belum menikah atau calon orangtua yang akan mempunyai anak. Tidak lupa menyiapkan ilmu untuk menjadi orang tua bijak yang mengerti dan paham tentang ini, karena dengan memahami sedikit ilmu tentang psikologi maka kita akan membantu membentuk kepribadian mereka dikemudian hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s