FICTION, ILMU KOMUNIKASI, KULIAH, Review, Uncategorized

Review Novel Feminisme: Perempuan Di Titik Nol

aceh

Novel Perempuan Di Titik Nol adalah novel karya Nawal El Saadawi yang pertama kali dipublikasikan di negara – negara Arab pada tahun 1975. Dan untuk pertama kali di Indonesia Novel ini dicetak oleh Yayasan Obor Indonesia yang tentunya sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Amir Sutarga.

Novel yang ditulis oleh Nawal El Sadawi ini merupakan kisah nyata dari seorang perempuan bernama Firdaus dari sel penjaranya di Penjara Qanatir, Mesir, tempat dia menunggu pelaksanaan hukuman mati. Sebelum kematiannya Firdaus menceritakan banyak pengalaman hidupnya kepada Nawal yang ketika itu menjadi psikiater dan sedang meneliti kasus neurosis di penjara tersebut.

Novel Perempuan Di Titik Nol  merupakan buku yang pedas juga tajam. Mengapa? Karena di dalam novel ini terdapat kritik – kritik terhadap situasi yang ada. Sastra Arab ini menggambarkan dan mencermikan realitas yang ada di dalam kehidupan yang sebenarnya. Dalam masyarakat tradisional, wanita berada pada kedudukan yang lebih rendah dibanding laki  – laki. Namun, semakin berkembangnya zaman, wanita mulai menuntut haknya dan menyetarakan dirinya sama seperti laki – laki.

Dalam novel ini Firdaus yang digambarkan sebagai seorang perempuan yang mempunyai masa remaja kelam dan sering menerima pelecehan dari laki – laki, tidak serta merta menyerah begitu saja. Ia tetap belajar, bersekolah, mencari pekerjaan untuk menjadi sesosok wanita yang mandiri dan agar dihormati. Walau pada akhirnya ia harus menjadi WTS, namun ia tetap membenci laki – laki.

Diketahui, budaya Arab dikenal sebagai masyarakat yang kedudukan perempuannya dianggap terbelakang. Nawal El Saadawi ingin menunjukkan perjuangan perempuan di negeri – negeri Arab untuk merebut kedudukan serta hak – hak yang sama.

Dari pengalaman Firdaus yang pahit, Firdaus tumbuh menjadi perempuan yang mempunyai jiwa Feminis Radikal. Ia membenci laki – laki. Dapat dilihat dari petikan novel berikut:

“Seorang pelacur yang sukses lebih baik dari seorang suci yang tersesat. Semua perempuan adalah korban penipuan. Lelaki memaksakan penipuan pada perempuan, dan kemudian menghukum karena telah tertipu, menindas mereka ke tingkat terbawah, dan menghukum mereka karena telah jatuh begitu rendah, mengikat mereka dalam perkawinan, dan menghukum mereka dengan kerja kasar sepanjang umur mereka, atau menghantam mereka dengan penghinaan, atau dengan pukulan”.

Gambaran buruk tentang laki – laki dan perkawinan ini wujud dari motivasi Nawal  ingin menyampaikan bahwa seringkali kekuasaan laki – laki menjadikan wanita hanya sebagai objek pemuas nafsu saja, kaum wanita sudah terlalu lama menjadi kelas kedua yang sering dijadikan korban penindasan oleh kaum laki – laki. Selain itu penulis juga menyatakan bahwa perkawinan hanya menjadi sebuah hal yang merugikan wanita. Seperti pada petikan di bawah ini:

Saya tahu bahwa profesiku ini telah diciptakan oleh lelaki, dan bahwa lelaki menguasai dua dunia kita, yang dibumi ini, dan yang di alam baka. Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka dengan harga tertentu, dan bahwa tubuh yang pailng murah dibayar adalah tubuh sang isteri, semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas daripada isteri yang diperbudak.“

Nawal menuliskan hal tersebut untuk menyuarakan jeritan dan penderitaan perempuan di negeri – negeri Arab.  Lewat Tokoh Firdaus, Nawal mengungkapkan bahwa perempuan di negeri – negeri Arab saat itu tidak mempunyai otoritas untuk memilih sesuatu. Firdaus mau tak mau dinikahkan oleh duda tua yang tidak ia sukai. Dalam pernikahan itu, Ia tidak bahagia sama sekali, ia hanya dijadikan pelayan sang suami dan kerap kali menerima kekerasaan fisik. Namun, hal itu dianggap wajar oleh masyarakat disana. Seperti pada petikan novel dibawah ini,

“Pada suatu peristiwa dia memukul seluruh badan saya dengan sepatunya. Muka dan badan saya menjadi bengkak dan memar. Lalu saya tinggalkan rumah dan pergi ke rumah Paman. Tetapi Paman mengatakan kepada saya bahwa semua suami memukul isterinya, dan isterinya  menambahkan bahwa Paman adalah seorang syeikh yang terhormat, terpelajar dalam hal ajaran agama, dan dia, karena itu, tak mungkin memiliki kebiasaan memukul isterinya. Dia menjawab bahwa justru laki – laki yang memahami agama itulah yang suka memukul isterinya. Aturan agama mengijinkan untuk melakukan hukuman itu. Seorang isteri yang bijak tidak layak mengeluh tentang suaminya. Kewajibannya ialah kepatuhan yang sempurna” .

Pada petikan novel di atas, Nawal ingin menyatakan bahwa kekerasan pada perempuan di dalam pernikahan dianggap wajar oleh masyarakat Arab. Namun Firdaus, yang memiliki keinginan untuk hidup bebas berhasil pergi dari suaminya dan hidup menjadi perempuan yang merdeka.

Firdaus berjuang untuk lepas dari dominasi kaum laki – laki dan mencari pekerjaan yang membuat dirinya merasa terhormat. Itu merupakan usahanya untuk menjadi manusia yang utuh. Ia mampu mencapai kesejahteraan hidupnya.

“Selama tiga tahun bekerja pada perusahaan itu, saya menyadari, bahwa sebagai pelacur saya telah dipandang dengan lebih hormat, dan dihargai lebih tinggi daripada semua karyawan perempuan. Pada masa itu saya tinggal di sebuah rumah dengan kamar mandi pribadi. Saya dapat masuk ke situ setiap saat, dan mengunci diri tanpa orang yang menyuruh buru – buru. Tubuh saya tidak pernah terjepit di antara tubuh – tubuh orang lain di dalam bis, juga tak pernah ditekan oleh tubuh orang lelaki baik dari depan maupun belakang. Harganya tidak murah, dan tidak bisa dibayar hanya dengan kenaikan gaji, oleh undangan untuk makan malam, oleh pelesiran sepanjang Sungai Nil dengan kendaraan seseorang. Juga tidak pernah dianggap sebagai harga yang seharusnya saya bayar untuk memperoleh jasa baik direktur saya, atau untuk menghindari amarah sang presiden direktur.

Di akhir kisah, Firdaus terpaksa berkencan dengan seorang pangeran dari negaranya. Ia begitu membenci penguasa itu. Firdaus meremas uang kertas yang diberikan oleh pangeran sebagai wujud kekesalan, bahkan ia mencoba melakukan pembunuhan kepada pangeran itu. Firdaus merasa bahwa penguasa dengan mudahnya menghabiskan uang untuk diberikan keepada WTS dan mebiarkan rakyatnya mati kelaparan.

Kebencian Firdaus kepada laki – laki dan penguasa semakin menjadi – jadi. Ketika di penjara ia sering meludahi foto – foto penguasa walaupun ia tak mengenalnya sama sekali. Novel ini benar – benar mengkrtitik apa yang terjadi pada masyarakat yang cenderung patriaki. Novel ini ingin menginformasikan bahwa begitu kejamnya dunia yang didominasi oleh laki  – laki di negeri Arab. Firdaus menjadi tokoh feminis radikal yang mempunyai perjuangan untuk membebaskan diri sendiri dari dominasi laki – laki.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s